Yaman: Sanaa Kejar Kemandirian Moneter - Balige Keren
Yaman: Sanaa Kejar Kemandirian Moneter

Yaman: Sanaa Kejar Kemandirian Moneter

Share This

Pemerintahan Yaman yang berbasis di Sanaa kian menunjukkan keinginan kuat untuk mandiri dalam urusan moneter, khususnya mencetak uang pengganti bagi pecahan yang rusak dan tak lagi layak edar. Langkah ini digambarkan sebagai upaya mempertahankan sirkulasi uang di wilayah yang mereka kuasai, di tengah fragmentasi otoritas negara dan konflik berkepanjangan.

Ambisi tersebut kembali mencuat setelah aparat keamanan di Aden, ibu kota sementara Yaman yang diakui secara internasional, mengumumkan penyitaan mesin cetak uang canggih di Pelabuhan Kontainer Aden. Peralatan tersebut disebut-sebut akan dikirimkan kepada kelompok Houthi yang menguasai Sanaa.

Dalam pernyataannya, aparat menyebut kargo itu berasal dari Jerman dan ditujukan untuk otoritas Houthi. Mesin-mesin tersebut diduga akan digunakan untuk mencetak mata uang lokal dalam skala besar. Bank Sentral Yaman terbagi dua; versi Sanaa dan Aden.

Menurut aparat keamanan, tujuan pencetakan uang tersebut bukan sekadar mengganti uang rusak, melainkan berpotensi merusak stabilitas ekonomi nasional dan mengguncang keamanan finansial Yaman. Tuduhan ini memperlihatkan betapa sensitifnya isu mata uang di negara yang terbelah oleh dua otoritas.

Setelah memastikan jenis dan fungsi mesin cetak yang disita, aparat segera melaporkan temuan tersebut kepada Gubernur Bank Sentral Yaman di Aden, Ahmed Ghaleb Al-Maabaqi. Laporan ini kemudian menjadi dasar langkah hukum lanjutan.

Al-Maabaqi mengeluarkan instruksi resmi kepada Jaksa Agung Yaman, Hakim Qaher Mustafa, untuk mengamankan mesin-mesin tersebut. Ia memerintahkan agar peralatan itu disimpan hingga dilakukan pemeriksaan oleh para ahli dan penyelidikan tuntas.

Pihak keamanan menyatakan operasi penyitaan dilakukan berdasarkan informasi intelijen yang akurat, disertai pelacakan dan pemantauan intensif terhadap pengiriman kargo. Penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap semua pihak yang terlibat dalam upaya penyelundupan tersebut.

Kasus ini terjadi di tengah serangkaian langkah sepihak otoritas Houthi di Sanaa terkait penerbitan uang baru. Sejak beberapa bulan terakhir, pemerintahan de facto di utara Yaman aktif memperkenalkan pecahan-p pecahan baru.

Pada 15 Juli, otoritas Houthi mengumumkan pencetakan uang kertas pecahan 200 riyal. Uang ini disebut sebagai pengganti pecahan 250 riyal yang dianggap sudah rusak dan tidak efisien lagi untuk diedarkan.

Langkah tersebut dilakukan hanya beberapa hari setelah mereka mencetak koin logam pecahan 50 riyal. Sebelumnya, koin 100 riyal juga telah diedarkan di wilayah Sanaa dan sekitarnya.

Dari sudut pandang pemerintah di Sanaa, kebijakan ini digambarkan sebagai kebutuhan praktis. Mereka beralasan banyak uang lama yang rusak akibat usia, perang, dan buruknya kualitas penyimpanan, sehingga perlu diganti agar aktivitas ekonomi rakyat tetap berjalan.

Keinginan untuk mandiri mencetak uang juga dipandang sebagai simbol kedaulatan finansial oleh otoritas Sanaa. Dalam kondisi terisolasi dari lembaga keuangan pusat di Aden, mereka berupaya mengelola sistem moneter sendiri sesuai kebutuhan wilayahnya.

Namun, langkah tersebut memicu reaksi keras dari Bank Sentral Yaman di Aden. Bank sentral menyebut penerbitan uang oleh otoritas Houthi sebagai eskalasi ekonomi yang berbahaya.

Menurut Bank Sentral di Aden, tindakan sepihak ini melanggar kesepakatan 23 Juli 2024 yang dimediasi oleh utusan khusus PBB. Kesepakatan itu bertujuan meredakan ketegangan ekonomi antara dua otoritas yang bertikai.

Bank sentral berulang kali memperingatkan warga dan sektor perbankan agar tidak berurusan dengan mata uang yang mereka sebut ilegal. Mereka menegaskan seluruh dampak destruktif terhadap ekonomi nasional akan menjadi tanggung jawab penuh kelompok Houthi.

Peringatan juga disampaikan kepada lembaga keuangan di wilayah utara Yaman. Bank sentral menilai kebijakan moneter sepihak berisiko menghancurkan sisa-sisa fondasi sistem ekonomi dan keuangan Yaman.

Lebih jauh, Bank Sentral Yaman di Aden mengingatkan potensi sanksi internasional. Sistem perbankan di wilayah yang dikuasai Houthi dinilai terancam terisolasi dari sistem keuangan global jika kebijakan ini terus berlanjut.

Meski demikian, otoritas di Sanaa tetap menggambarkan langkah mereka sebagai solusi domestik di tengah krisis berkepanjangan. Bagi mereka, pencetakan uang pengganti dianggap jalan keluar jangka pendek untuk menopang aktivitas ekonomi harian masyarakat.

Situasi ini menegaskan bahwa isu mata uang di Yaman bukan semata persoalan teknis ekonomi. Ia telah berubah menjadi simbol perebutan legitimasi, kedaulatan, dan arah masa depan negara yang masih terjebak dalam konflik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages